Ardikara
Satya
Purnama

——"Karena menjadi cantik adalah hak semua orang."——

NamaArdikara Satya Purnama
Nama PanggilanArdi, Dika, Ara
Usia24 tahun
Tinggi Badan190cm
Berat BadanJangan ditanya dong~💖
GenderLAKIK 💪 🔥
ProfesiMake Up Artist & trainer kelas kecantikan

Speciality:

  • Makeup

  • Face Painting

  • Special Effects Makeup

  • Hairstyling

Melayani:

  • Daily/casual makeup

  • Face Painting

  • Photoshoot makeup

  • SFX make up

  • Cosplay

  • Wedding/event makeup

  • Beauty class

Ardikara Satya Purnama adalah seorang anak laki-laki yang terlahir dari seorang gadis remaja berusia 16 tahun di luar pernikahan. Setelah dikeluarkan dari sekolah dan dibuang oleh keluarganya, sang ibu kemudian menjual tubuhnya demi menghidupi putranya dan dirinya sendiri.Ardikara tidak pernah malu akan asal usulnya maupun pekerjaan ibunya. Baginya, sang ibu adalah sosok yang kuat dan tegar dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Sosok ibunya yang berdandan dan memakai pakaian cantik dan keluar di malam hari tampak bagai berlian yang berkilau indah dan takkan hancur meski dihantam apapun.Ardikara tumbuh besar dengan ejekan dan tatapan hina dari orang sekelilingnya karena asal-usulnya dan pekerjaan ibunya—baik dari anak-anak seusianya maupun orang dewasa. Namun hal itu tidak sedikitpun melunturkan rasa cinta dan rasa hormatnya kepada ibunya. Perasaan benci justru tumbuh di hatinya terhadap orang-orang yang berani menghina ibunya tanpa tahu betapa kerasnya kehidupan yang dialami olehnya dan betapa tegarnya ia dalam menghadapi itu semua.Ardikara tumbuh menjadi ‘anak bermasalah’, ia kerap kali menghajar anak-anak di sekelilingnya yang berani menghina ibunya dan berkali-kali dikeluarkan dari sekolah karenanya. Namun tak sekalipun ibunya marah atau mengutarakan rasa kecewa kepadanya. Ibunya adalah satu-satunya sosok yang mencintainya tanpa batas.Namun semua itu berubah ketika ibunya sakit parah di usianya yang baru menginjak tahun ke-9. Ardikara pun harus berhenti sekolah demi merawat sang ibu dan mencari uang untuk hidup sehari-hari. Tidak ada yang sudi menolongnya saat Ardikara kecil meminta pertolongan untuk ibunya yang sekarat. Begitu ia kembali ke rumahnya, ibunya sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu usia Ardikara baru menginjak tahun ke-10.Sejak saat itu, Ardikara dirawat di panti asuhan. Di sana ia menemukan banyak anak-anak sepertinya—anak-anak yang terbuang, yang terlantar, yang diejek dan dihina karena tidak memiliki orang tua. Sebagai anak yang lebih besar dari kebanyakan anak di panti asuhan itu, ia pun menjadi sosok kakak yang melindungi dan menghibur anak-anak yang lebih kecil ketika mereka diejek dan dihina. Ia pun kembali melanjutkan pendidikannya walaupun harus mengulang kelas 4.Saat usianya 15 tahun, Ardikara kembali dikeluarkan dari sekolah tepat sebelum ujian nasional karena menghajar seorang guru yang menghinanya sebagai anak pelacur hingga guru tersebut dilarikan ke rumah sakit. Sejak saat itu, ia merasa bahwa sekolah bukanlah tempat yang sesuai untuknya dan ia pun hidup dengan bekerja serabutan.Saat ia bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah salon kecantikan, ia mulai tertarik dengan dunia make up dan hairstyling. Baginya, itu adalah sebuah sihir yang dapat membuat orang terlihat berkilau seperti mendiang ibunya. Ia pun meminta untuk diajarkan oleh sang pemilik salon yang setuju dengan syarat Ardikara harus menyelesaikan pendidikannya hingga SMA.Ardikara pun mengambil ujian paket B dan melanjutkan pendidikannya ke bangku SMA di usianya yang ke-17 tahun dengan dibiayai oleh pemilik salon. Di SMA, dia kembali dikucilkan karena latar belakangnya walaupun tidak ada yang berani menghinanya secara terang-terangan dikarenakan insiden sewaktu ia di kelas 9. Namun ia menemukan seorang teman baik di bangku SMA; Gahana Lilavati Sadajiwa yang mau berteman dengannya tanpa peduli dengan latar belakangnya.Setelah lulus dari SMA di usia 19 tahun, Ardikara pun menekuni industri kecantikan dan mengambil sertifikasi MUA. Ia merasa bahwa ia telah menemukan passionnya dan dunia yang sesuai untuknya.

Sekilas, Ara tampak seperti pribadi yang ceria dengan pembawaan santai. Ia selalu tampak percaya diri dan dapat bergaul dengan siapa saja. Ia sangat bangga dengan profesinya sebagai makeup artist dan juga penampilannya yang feminin. Baginya, riasan adalah war paint dan pakaian cantik adalah baju zirah yang melindunginya dan menunjukkan pada dunia bahwa ia tidak takut akan kerasnya kehidupan dan tidak akan hancur meski diterpa apapun.Meskipun berpenampilan feminin, Ara adalah seorang laki-laki tulen. Ia memiliki rasa keadilan tinggi dan sangat menghormati perempuan. Ia paling benci melihat penindasan—terutama jika korbannya perempuan—dan takkan segan-segan menghajar pelakunya jika ia melihat hal itu terjadi di depan matanya.Ara tidak sembarangan berbagi mengenai dirinya dan latar belakangnya, namun ia juga tidak menutup-nutupi hal tersebut. Baginya, tidak ada satupun dari dirinya yang harus membuatnya merasa malu. Ia juga tidak segan menghajar orang-orang yang berani mengolok-oloknya.Ara merupakan pribadi yang terbuka dan apa adanya, namun ia tidak sembarangan menaruh rasa kepercayaannya kepada sembarang orang. Ia paham betul bahwa manusia adalah makhluk yang berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi, sehingga ia selalu siap dan tidak pernah takut dikhianati karena ia tidak segan memberi pelajaran pada orang-orang yang mengkhianatinya. Ia adalah sosok bagai langit cerah yang dapat membawa badai kapanpun.

Gahana Lilavati Sadajiwa

Bagi Ara, Hana adalah sosok sahabat yang sangat berarti baginya yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Hana merupakan sosok yang ingin ia lindungi sepenuh hati. Mereka tetap menjalin hubungan baik setelah keduanya lulus dari bangku SMA.

  • Ia tidak pilih-pilih soal makanan dan paling benci melihat makanan bersisa atau dibuang-buang.

  • Jago masak dan bisa membuat makanan enak dari bahan apapun

  • Neat freak yang paling tidak tahan melihat tempat kotor atau berantakan—pasti akan langsung ia bersihkan.

  • Pintar membuat segala jenis kue dan berjualan kue sebagai usaha sampingan dan hobi.

  • Paling benci melihat orang merokok sembarangan.